IR UGM Book Club

Sebuah komunitas klub buku HI UGM yang didirikan sejak tahun 2012.

Economic Hit Man

Sebenarnya tulisan ini saya maksudkan untuk menjadi usaha pertama saya untuk melakukan review terhadap buku yang sudah saya baca. Sudah sejak lama saya mengumpulkan niat untuk menuliskan review buku-buku yang sudah saya baca, namun memang rasa malas ini ada saja alasannya untuk mengahalangi niat saya. Baiklah, review saya kali ini mengambil buku “Confessions of An Economic Hit Man” karya John Perkins yang baru saja saya selesai baca dua hari yang lalu.

Hit Man?

Pertama kali saya berniatan untuk membeli buku ini sebenarnya datang dari seorang teman kos saya, Bara. Seperti biasa saya sering bertanya kepada orang-orang yang suka membaca, buku apa yang bisa dia rekomendasikan kepada saya. Buku inilah yang kemudian Bara sarankan kepada saya. Saat mendengar judulnya, terlintas di pikiran saya mengenai arti Hit Man. Apa sebenarnya arti Hit Man? Saya hanya pernah mendengar istilah tersebut dari sebuah game PC mengenai seorang pembunuh bayaran. Lalu dengan dibumbui Economic, apakah artinya buku ini akan bercertita mengenai pembunuh yang bergerak dalam bidang ekonomi? Yap, pikiran dangkal saya hanya bisa mengantar saya hanya sampai di titik itu sebelum saya membuka lembaran pertama dari buku karya John Perkins.

Economic Hit Man (EHM), seperti yang ditulis oleh John Perkins, adalah seorang profesional yang dibayar tinggi untuk mencurangi negara-negara di dunia dalam jumlah milyaran dollar. Mereka menggunakan laporan keuangan, pencurangan pemilihan umum, ekstorsi, seks, dan pembunuhan sebagai cara mereka mencapai tujuan. Sebuah definisi yang sangat mengerikan untuk sebuah istilah, bukan? John Perkins menyadari bahwa selama lebih dari 30 tahun masa produktifnya telah dihabiskan untuk mencurangi negara-negara berkembang agar jatuh ke tangan ekonomi dunia atau saya bisa menyebutnya kerajaan Amerika Serikat (John Perkins menyebutnya sebagai American Empire) dengan cara membuat mereka berhutang. Dengan begitu akan mudah bagi Amerika Serikat mengambil “pound of flesh” dari setiap negara-negara yang telah bangkrut karena jumlah hutang yang tak mungkin dapat dibayar dengan cara mengambil kekayaan alam atau sumber daya manusia negara-negara tersebut dengan harga murah atau bahkan gratis.

Buku ini bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama, yakni John Perkins itu sendiri sebagai seseorang yang secara sadar betul (karena di tengah cerita, John Perkins menceritakan bagaimana sistem EHM telah berkembang dan membuat seseorang tidak sadar bahwa dia adalah seorang EHM untuk meminimalisir pergolakan jiwa seperti yang ia hadapi) melakukan perannya sebagai salah satu EHM paling berbahaya di dunia. John Perkins menceritakan pengalamannya secara detail mengenai bagaimana perjalanannya menjadi seorang EHM. Dari masa kecilnya, kehidupan remaja, lika-likunya dengan NSA, hingga akhirnya membawa dia menjadi seorang EHM di sebuah perusahaan Amerika Serikat.

Misi Pertama, Indonesia

Salah satu bab yang paling saya sukai dan paling mengagetkan saya adalah mengenai misi pertamanya di Indonesia. Dalam bukunya dia menulis “Indonesia: Lessons for an EHM”, satu bab yang menceritakan pengalaman misi pertamanya sebagai EHM. Indonesia yang di buku itu diceritakan sedang dalam masa pemerintahan Soeharto, menjadi potensi bagi Amerika Serikat untuk dijadikan korban. Negara kita terkenal dengan kekayaan alamnya sejak zaman Majapahit, ditambah lagi dengan jumlah populasi penduduknya yang besar dapat dijadikan target pasar atau bahkan buruh murah.

John Perkins berangkat ke Indonesia belum sepenuhnya sebagai EHM. Misi pertamanya sebenarnya sangatlah mudah, yakni membuat laporan mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 25 tahun ke depan. Dia pergi sebagai peneliti lapangan, belum sebagai EHM. Laporan tersebut kemudian akan disampaikan kepada bosnya agar dapat dijadikan basis mengapa Indonesia perlu atau berpotensi untuk diberikan hutang (hutang di sini memiliki arti untuk memberikan bantuan pinjaman uang, pembangunan infrastruktur, transfer of knowledge, hingga pengiriman para ahli untuk membantu pembangunan bangsa) dan kemudian diharapkan dapat diambil “pound of flesh”-nya 25 tahun mendatang.

Yang unik dari bab ini bukan hanya target operasinya yang berlokasi di Indonesia, namun juga mengenai konflik batin atau pergolakan jiwa John Perkins dalam tahap awalnya menjadi EHM. John Perkins merupakan tipe orang yang suka bergaul atau taruhlah suka bersosialisasi. Dia sangat terbuka atas informasi apapun yang sekiranya dapat membantunya. Negara kita yang terkenal dengan keramahannya meninggalkan kesan yang tidak mudah baginya. Sewaktu berada di Indonesia, John Perkins berteman dengan beberapa mahasiswa yang ramah dan sering mengajaknya untuk lebih mengenal Indonesia. Konflik batin mulai muncul ketika keramahan tersebut mengusik moralitas serta tanggung jawabnya sebagai EHM untuk mencurangi Indonesia, atau kasarnya membawa Indonesia kepada kehancuran melalui kebagkrutan negara. Dia, seperti banyak EHM lainnya, mulai membuat keputusan penting di misi pertamanya ini. Dia mulai mengafirmasi tindakannya sebagi suatu hal yang benar karena dia melakukannya untuk kepentingan negara, membawa bangsanya menuju kemajuan.

Kisah Nyata atau Fiksi?

Yang terlintas pertama kali setelah membaca buku ini adalah, apakah cerita ini nyata? Saya membagi pemikiran ini kepada beberapa teman, dan memang banyak yang berkata bahwa buku ini tidak sepenuhnya benar. Namun, saya tidak berhenti sampai di sana. Footnote-footnote yang digunakan John Perkins sangat menyakinkan, data-datanya visible dan bisa diakses. Setelah mencari konfirmasi atas kebenaran keberadaan John Perkins dan ceritanya di internet, saya mendapati kenyataan yang pahit sekaligus melegakan. Cerita buku ini ternyata memang terjadi, John Perkins memang terdaftar di perusahaannya, artikel-artikel yang memuat tentang lika-likunya sebagai EHM ada dan terarsipkan.

Memang ketika membacanya, terkesan sangat konspiratif dan sangat berpihak kepada John Perkins (yang pada akhirnya merasa bersalah dan berusaha membayarnya dengan membuat buku ini), namun buku ini meninggalkan kesan yang cukup dalam bagi saya. Keberadaan EHM memang benar-benar ada, bangsa kita telah masuk ke dalam perangkapnya, dan tidak banyak yang bisa kita lakukan atas hutang-hutang tersebut. John Perkins memang memberikan banyak cara untuk menghadapi EHM di akhir bukunya, namun untuk skala pejabat negara memang diperlukan keberanian untuk membuat keputusan yang kontroversial. Saya baru menyadari bahwa kita sudah masuk dalam era baru EHM yang lebih berbahaya dari zaman John Perkins.\

Pada akhirnya, buku ini membawa saya kepada pertanyaan moral seperti yang dirasakan oleh John Perkins. Apakah kita ini punya hak sebegitu besarnya untuk menghancurkan negara orang lain untuk kepentingan kita sendiri? Apakah kita sebegitu liciknya untuk mencapai tujuan kita? Apakah menjadi kaya adalah satu-satunya cara untuk dapat bahagia di dunia yang semakin materialistis ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat saya jawab, dan akan menjadi pekerjaan rumah kita masing-masing. Buku ini sangat recommended bagi siapapun saya rasa. Masyarakat negara-negara maju saya rasa sudah mengalami shock effect yang cukup setelah terbitnya buku ini, namun saya masih ragu dengan masyarakat Indonesia. “Boro-boro baca/beli buku, wong makan saja susah mas” kata-kata tersebut mungkin yang akan sering saya dengar jika kita mulai mempromosikan buku ini.

Oleh: Iqbal Zakky Hasbianto (@merdeka_1)

Jiwa-jiwa yang Terjual Dalam Sepakbola: Sebuah Resensi

Judul buku: Jumpers For Goalposts: How Football Sold Its Soul

Pengarang: Rob Smyth & Georgina Turner

Jumlah Halaman : 224 hal.

Tahun Terbit : 2011

Bahasa : Inggris

Saya jadi teringat waktu masih kecil kalau dulu permainan sepak bola adalah tempat saya belajar moral. Saya mengasumsikan secara naif ketika itu kalau 22 pemain yang rebutan bola dan memasukkannya ke gawang adalah manifestasi dari sportivitas yang sesungguhnya. Istilahnya, tayangan sepakbola ketika itu jauh lebih mampu untuk mengajarkan tenggang rasa, maskulinitas, disiplin, dan peduli kawan. Terutama ketika anime ‘Captain Tsubasa’ mulai ‘gentayangan’ di salah satu stasiun televisi swasta menjelang maghrib, level kecintaan sepakbola saya semakin naik level. Berevolusi jadi anggapan kalau sepakbola mampu membuat orang bisa keluar negeri di usia dini. Itu dulu. Jauh sebelum saya berkenalan dengan istilah-istilah sulit seperti kapitalisme, massa rakyat, people power, demokrasi di kehidupan masa depan kelak. Sepakbola yang saya lihat sekarang berubah menjadi sebuah permainan yang tidak hanya melibatkan 22 orang, namun juga struktur sosial. Struktur sosial tadi menjelma menjadi bentuk-bentuk identitas seperti kota, negara, aliran agama, dan ras tentunya. Dahulu kala pernah ada kutukan bertuah dari seorang pemikir yang dipatronkan jadi Bapak Komunisme, kalau masyarakat kapitalis akan menggali kuburnya sendiri. Namun jangan lupa, sebelum kutukan bertuah itu lahir, bapak yang sama juga pernah bilang kalau kapitalisme itu mengajarkan kita tentang berkembangnya sains, penghapusan nilai-nilai feodal, juga turut andil memperkenalkan efektivitas. Efektivitas dalam masalah transportasi, komunikasi, dan informasi. Oiya, nama bapak itu adalah Karl Marx. Dan semangat saya untuk berkutat di arena sepakbola menurun drastis menjadi penonton musiman. Saya menonton pertandingan sepakbola kalau kebetulan tim kesayangan saya bertanding. Meminjam istilah filsuf Paul Riceour dan Alain Badiou, kita mengada karena kejadian di sekitar kita, mengadanya saya dalam sepakbola baru muncul ketika event-event seperti Liga Champions atau Piala Dunia ditayangkan di televisi. Sampai suatu hari, dunia maya berkolaborasi menemukan buku ini dalam bentuk buku elektronik. Buku yang berjudul Jumpers For Goalposts: How Football sold its Soul karangan Rob Smyth dan Georgina Smyth.

Buku ini terdiri dari 6 bab besar. Namun saya akan mengambil beberapa bab yang menjadi garis besar argumen ‘marah-marah’ Smyth. Bab favorit saya adalah bab pertama bercerita tentang false idols dalam sepakbola. Argumen Smyth dalam bab ini berangkat dari teori Maslow tentang teori kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia di sini tidak hanya masalah pangan, sandang, dan papan. Ternyata manusia, menurut Maslow juga memerlukan yang namanya aktualisasi diri. Aktualisasi diri, masih menurut Maslow berada di puncak hierarki kebutuhan yang didefinisikan sebagai sebuah dorongan pencapaian diri melalui pengembangan potensial. Cara paling mudah untuk melihat bentuk aktualisasi diri adalah melalui prestasi. Masih dalam bab yang sama, Smyth mengambil contoh Dave Mackay yang merupakan ‘hard-man’ sepakbola pada saat itu. Bahkan George Best, pesepakbola yang terkenal flamboyan sendiri bilang ‘Mackay was unquestionably the hardest man I ever played against,’ said George Best. ‘And certainly the bravest,’

Apa yang dialami Mackay ketika itu? Sang legenda dari Tottenham ini pernah memasang tampang bosan ketika kakinya patah ditekel di Old Trafford di tahun 1963. Dan Mackay harus absen dua tahun untuk pemulihan cedera. Kasus seperti Mackay ini bakal banyak ditemukan di bab pertama buku ini. Kesimpulan yang saya ambil untuk bab pertama buku ini adalah sepakbola adalah permainan yang keras. Bahkan George Best sendiri terkenal karena kehebatannya tetap berdiri dengan dua kaki menghadapi tekel keras musuh. Lantas dimana letak kepalsuan si idola yang dimaksud oleh Smyth?

Nah, disini menariknya. Menurut analisa Smyth, idola sepakbola zaman dahulu bisa ada karena prestasi atau mitos yang mereka buat. Sedangkan, mitos idola sepakbola zaman sekarang dibentuk oleh merek yang dibentuk oleh si pemegang modal. Hasilnya, idola sepakbola zaman sekarang jadi terlihat lebih rapuh. Mitos hard man sebagai sepakbola yang dulu disanjung tergantikan dengan mitos ala selebriti. Sekarang, saya sulit membedakan mana yang pemain sepakbola mana yang selebritas. Garis perbedaan itu menjadi baur. Dulu mitos diciptakan oleh fans fanatik, sekarang fans fanatik malah digoda melalui mitos. Dulu saya tidak peduli apakah pemain bola idola saya itu hobi kawin atau tidak, sekarang saya bisa ambil peduli atau sekedar tahu Christiano Ronaldo hobinya gonta-ganti pacar. Menjadi idola sepakbola zaman sekarang berarti menjadi selebriti juga. Dengan siapa ia kencan, punya rumah berapa, beli mobil merek apa saja menjadi penting. Ini bentuk jiwa yang terjual dalam sepakbola modern.

Bab kedua dalam buku ini yang diberi judul ‘The Miserable Game’. Di setiap pertandingan siapa yang tidak suka dengan kata kemenangan, namun menurut Smyth, kemenangan tidaklah penting yang penting adalah kejayaan. Kemenangan itu cuma sebagian kecil. Kejayaan dari sebuah tim itu yang lebih layak diceritakan. Kejayaaan adalah bahan bakar dari heroisme atau kejayaan adalah warisan nilai bisa diceritakan terus menerus. Dalam bab ini, ada kutipan terkenal dari Danny Blanchflower: ‘The great fallacy is that the game is first and last about winning,’ he said. ‘It’s nothing of the kind. The game is about glory. It is about doing things in style, with a flourish, about going out to beat the other lot, not waiting for them to die of boredom,’

Anda bisa menang namun belum tentu bisa punya kejayaan artinya ada tarikan jelas antara kalah secara heroik atau dikenang sebagai seorang pecundang. Legenda-legenda sepakbola punya aturan tidak tertulis semacam ini yang menurut mereka jiwa lain yang terjual dalam sepakbola modern. Di sepakbola modern, kemenangan berarti berjalin kelindan dengan profit. Animo fans yang datang ke stadion, berapa banyak merchandise klub yang terjual, berapa harga kontrak pemain di masa yang akan datang. Kalau tidak berlebihan, di sepakbola modern kemenangan juga telah menjual jiwanya dalam bentuk lain yaitu profit. Fans di sepakbola modern bisa jadi bahan komoditas yang dikeruk sedemikian rupa. Selamat buat para fans, anda adalah angka-angka statistik!

Bab favorit yang saya terakhir dalam buku ini adalah bab III yang diberi judul “IN A £EAGU€ OF THEIR OWN’. Jiwa terakhir sepakbola ini akhirnya terjual yaitu setiap laga adalah sebuah pabrik profit baru. Laga sepakbola yang berjubel banyaknya itu akhirnya berubah menjadi bentuk pengerukan profit baru. Bab III inilah yang menurut Smyth, sepakbola bertemu dengan apa yang disebut sebagai akumulasi primitif (primitive accumulation). Laga sepakbola adalah merek yang dijual. Kecanggihan kapitalisme modern memiliki dua tahap yaitu tahap pertama disebut komersialisasi. Syarat hasil produksi untuk menjadi komoditas adalah memiliki nilai tukar dan nilai guna. Di era kapitalisme modern ini, nilai tukar dan nilai guna bisa diperoleh dari hal yang paling abstrak. Sesuatu yang pernah disebut Zizek sebagai cultural capitalism. Semisal begini, pemegang hak siar liga A ingin melebarkan sayapnya di benua B dan ia akan membuat tender. Tender bisa saya tambahkan etik-etik moral tertentu dengan bilang kalau hasil profit hak siar ini bisa digunakan untuk hasil-hasil amal. Kapitalisme disini mengajarkan pemegang hak siar A tidak hanya cara menjual, namun juga menggaungkan etika-etika tertentu. Dulu setiap laga sepakbola bisa diistilahkan sebagai sebuah bentuk aktualisasi antar tim dan sekarang setiap laga sepakbola nilainya jadi tereduksi menjadi barang komoditas baru. Yang penting disini adalah animo pasar. Bentuk arkaik dari cara ini bisa ditemukan di bab III buku ini yang dimulai tahun 1992. Nilai yang dijual tidak lain dan tidak bukan adalah tim-tim dalam liga tersebut. Liga Inggris lebih tepatnya.

‘those who maintain that the soul is incorporeal are talking nonsense, because it would not be able to act upon or be acted upon if it were of such a nature’ (dikutip dari Bifo, h.21)

In a sense we could say that the soul is the relation ro the other, it is attraction, conflict, relationship. The soul is language as the construction of the relationship with alterity, a game of seduction, submission, domination and rebellion.

Catatan ini akan bercerita tentang jiwa. Kalau di bab pertama resensi ini, saya berkutat pada apa yang dibahas sebagai jiwa yang hilang dalam sepakbola. Maka di bab kedua resensi ini saya akan bercerita tentang definisi jiwa. Saya ambil dua kutipan di atas tidak dari buku Jumpers For Goalposts melainkan dari buku karangan Franco ‘Bifo’ Berardi yang berjudul The Soul at Work: From Alienation to Autonomy. Dalam buku ini, Bifo mencoba melihat jiwa sebagai sebuah hal yang materialistik. Ia berbentuk segala sesuatu yang menggerakkan dan menghidupkan si tubuh berbentuk konkrit bernama otot-otot. Jiwa ini berbentuk afeksi, kognisi, pemikiran dan emosi. Kata lainnya, jiwa disini berbentuk metafora . Jiwa membentuk relasi dan menyutradarai sang tubuh sehingga membentuk dunia seperti sekarang ini. Tak terkecuali dunia sepakbola. Dunia sepakbola disini dibentuk meminjam istilah dari Smyth adalah bola itu sendiri . Saya membalik istilah Smyth disini menggunakan istilah Bifo dengan mengatakan bola itu metafora simbolik dari jutaan relasi yang terbentuk di dalamnya. Bola atau spesifiknya permainan sepakbola adalah sebuah dunia yang dibentuk dari aktualisasi diri, bakat, kapital, ras, otonomi bahkan agama itu sendiri. Kapitalisme modern yang terjadi dalam konteks Liga Inggris memutus rantai relasi-relasi tersebut dan hanya menyisakan istilah ‘bermain, menang dan jangan lupa berbelanja merchandise tim kesayangan anda’. Jiwa-jiwa yang terdesak marah dan sadar kehilangan otonominya ini didemonisasi sedemikian rupa. Putusnya relasi ini juga terjadi antara fans dengan tim sepakbola kesayangannya karena fans disini sudah direduksi bukan sebagai agen otonom tapi sebagai angka statistik. Istilah ‘Ada fans banyak nuntut, tuduh saja hooligan, pemain yang ngeyel, jual saja ke klub lain’ jadi solusi yang tidak terbantahkan di sepakbola modern sekarang. Teriakan kemarahan jiwa yang teracuni oleh kapitalisme ini akhirnya direduksi menjadi omong kosong belaka. Tidak ada yang lebih pedih bagi fans fanatik sepakbola dari teralienasi oleh tim kesayangannya.

Saya hanya ingin memberikan komentar tentang buku ini. Buku ini mengamini analisanya sendiri yang terlalu terlihat Anglo-Sentris dari kalimat 'We’re also conscious that most of the players included are British or Anglicised; we’re not xenophobes, honest'. Buku ini lebih mirip tentang sejarah-sejarah sepakbola Inggris masa lalu dibandingkan buku analisa sepakbola global. Setidaknya Smyth tidak xenophobic dengan banyak memasukkan contoh liga-liga lain, seperti Liga BBVA, Serie A Italia untuk dijadikan beberapa kasus. Dan ternyata hal tersebut membuat buku ini menjadi konsisten dalam hal menganalisa Inggris sebagai sebuah bentuk Revolusi Industri sepakbola. Revolusi Industri sendiri di Inggris memperkenalkan sebuah bentuk masyarakat baru dan dunia sepakbola Inggris jadi mengenal hal itu.

Metafor bagaimana sepakbola menjual jiwanya menjadi metafor yang menarik. Subtil sekali bukan?

Oleh: Dipa Raditya (@diparaditya)

Tips Membaca

“Buying books would be a good thing if one could also buy the time to read them in: but as a rule the purchase of books is mistaken for the appropriation of their contents.” (Arthur Schopenhauer)

“A book must be the ax for the frozen sea within us.” (Franz Kafka)

Alkisah, buku disebut sebagai jendela dunia. Dengan buku, manusia modern bisa berinteraksi dan merasa dekat secara personal dengan orang-orang terdahulu nun ribuan tahun jaraknya. Dengan buku, kita selalu belajar hal baru baik kosakata baru, dunia baru maupun nama-nama baru. Buku adalah sumber ide yang mumpuni untuk bisa diakses oleh siapa saja. Tidak heran, buku bisa menjelma menjadi inspirasi di tangan seseorang atau menjadi momok menakutkan di tangan yang lain. Karena itu, sebagai seorang pembaca buku yang medioker, saya hanya ingin sekedar berbagi tips untuk membantu para pembaca agar bisa sekedar menikmati. Kata Francis Bacon, knowledge is power dan sebagai salah satu orang yang percaya bahwa kekuatan bisa berharga ketika dibagi. Maka dari itu, saya membuat catatan ini. Inilah tips personal dari saya.

Pilah-pilah dulu

Pilahlah buku yang anda baca dengan cara yang paling sederhana yaitu melalui jenisnya. Jenis buku yang berbeda membutuhkan cara membaca yang berbeda pula. Apabila buku yang anda baca adalah buku-buku sastra maka anda harus membacanya dari awal sampai akhir. Sastra pun masih terbagi lagi ada yang klasik dan populer yang juga perlu cara berbeda dalam membaca dan memahami isinya. Kalau untuk buku-buku referensi , manfaatkanlah indeks dan cari kata-kata dasar yang ingin anda mengerti. Perhatikan argumennya dan kutiplah sesuai selera serta kebutuhan.

Pengantar itu penting

Ada alasan mengapa pengantar itu penting. Karena pengantar dalam sebuah buku terutama buku ilmiah adalah kunci dari dunia baru yang akan kita masuki. Biasanya para (calon) pembaca sudah keburu minder melihat buku yang terlalu tebal dan juga dicurigai berbahasa berbelit-belit. Disinilah guna dari pengantar. Saya beri contoh kasus, misalnya anda tertarik dengan buku karangan si Fulan yang monumental. Dan anda membeli buku tersebut lalu membacanya dengan khusyuk lalu anda malah semakin tidak mengerti. Alih-alih tambah suka, yang ada malah jadi kecewa . Boom! Kesalahan bukan pada buku si x saudara , namun pada bagaimana cara anda membacanya. Karena itu saya tekankan pengantar itu penting. Sekarang caranya bagaimana? Biasakan mencari pengantar bukunya terlebih dahulu. Pahami konteks mengapa buku itu dikarang. Kok bisa? Nah disini triknya. Anda bisa mulai mencari melalui review tentang buku tersebut dari sumber-sumber primer (nanya sama teman, senior, gebetan, kekasih, mantan pacar, centeng) atau sumber sekunder (Google, Wikipedia dan artikel cetak maupun elektronik). Ketika anda membaca atau mendengarkan review dari sumber-sumber tadi, coba saja ingat (atau catat bila perlu) apa yang penting untuk memahami buku tersebut. Penting juga untuk, diingat kita hidup di sebuah dunia di mana jaringan informasi sangat dekat dan cepat. Manfaatkanlah hal tersebut. Dengan begitu, anda punya nilai lain selain kemudahan untuk mengerti buku tersebut yaitu anda juga belajar satu hal baru, yaitu bisa menilai buku. Cara lain adalah cari buku-buku yang pernah membahas ide yang bersangkutan. Semisal, anda ingin paham dan penasaran dengan semio kapitalisme Franco Bifo Berardi. Jangan langsung baca buku aslinya. Bacalah dulu dari tulisan orang lain yang pernah membahas si Franco. Atau baca dulu pengantar tentang kapitalisme. Pengantar adalah kunci dan batu pijakan menuju ruang-ruang labirin pemikiran tersebut. Ia juga berguna sebagai sebuah peta agar tidak tersesat dan salah pengertian.

Catat, diskusikan, dan bagikan

Setelah anda membaca buku tersebut, ada pentingnya membuat catatan. Membuat catatan ringkas dan tepat guna itu seni tersendiri. Ketika anda membaca, tandai argumen-argumen penting dalam bacaan tersebut lalu rangkailah menjadi catatan sesuai selera. Saya biasa menggunakan aplikasi untuk notepad ketika membaca e-book atau buku catatan kecil untuk buku-buku cetak. Saya biasa menggunakan kalimat pendek dan kalimat penjelas ringkas untuk mencatat. Kalau tidak biasa, bisa gunakan mind-mapping atau bagan-bagan. Ingat, catatan ini bersifat personal jadi gaya belajar anda juga menentukan. Pilihlah yang paling nyaman dan paling sesuai dengan karakter belajar anda. Tidak suka mencatat? Simpel, diskusikanlah di ruang-ruang publik atau jadikan bahan bacaan jadi inspirasi untuk mengobrol. Lontarkan pertanyaan kepada rekan-rekan diskusi anda apa yang menggelitik dari buku yang anda baca. Biasakan berdebat dan bertukar pikiran. Dan tentu jangan lupakan etika sosial. Selain dua hal di atas, saya punya cara lain yaitu teori mengganti kacamata. Teori mengganti kacamata ini adalah cara membaca ulang buku novel dengan kacamata perspektif dari sebuah buku teori. Semisal, saya pernah mencoba menggunakan filsafat eksistensialis Sartre untuk memahami Lord Of The Ring, teori habitus Bordieu untuk novel Bartimaeus Trilogy dan teori rezim pengetahuan milik Foucault untuk buku Harry Potter. Penasaran bagaimana sensasinya? Mengasyikkan! Dan tentu memudahkan saya untuk menggali sisi lain dari segala hal. Buku teorinya menjadi lebih mudah dipahami dan sastra yang saya baca jadi lebih imajinatif. IV.

Just do it!

Lakukanlah sekarang juga sebisa anda, semampu anda dan nikmati prosesnya. Perlu kemauan kuat untuk melakukan segala hal termasuk dalam hal membaca. Membaca itu seni dan perbuatan yang butuh repetisi terus-menerus. Nah, sekian dulu tips dari saya. Selamat mencoba dan semoga berhasil

Oleh: Dipa Raditya (@diparaditya)

Religion in Human Evolution: From the Paleolithic to the Axial Age

Judul Buku: Religion in Human Evolution: From the Paleolithic to the Axial Age

Penulis: Robert N. Bellah

Cara pandang Robert N. Bellah dalam melihat agama dimulai dari hal yang paling sederhana yaitu teori tentang agama sipil. Dua kata agama dan sipil bersanding menyiratkan sebuah arti bahwa hubungan antara agama dan masyarakat sama-sama memiliki nilai yang bertaut satu dengan yang lain. Agama , bagi Robert N.Bellah tidak memerlukan suatu keterlibatan dunia supernatural sama sekali. Masyarakat-lah yang melahirkan agama dan mati atau tidaknya agama tergantung pada masyarakat sipil. Pertanyaan berikutnya muncul apakah agama berguna tanpa adanya pengikut. Gelutan pemikiran Bellah ini tidak main-main. Ia menguraikan temuannya dalam buku Religion in Human Evolution: From the Paleolithic to the Axial Age, 2011 yang berbeda dengan buku-buku karya sebelumnya yang hanya mengandalkan perspektif sosiologis. Dalam buku setebal 744 halaman (bisa lebih tebal untuk edisi hard cover) , Bellah menggabungkan pendekatan interdisipliner untuk membidani agama dari kerahiman peradaban manusia.

Sebagaimana manusia yang merupakan spesies yang berevolusi , peradaban yang dilahirkannya juga berevolusi. 3 proses yang ditekankan dalam buku Bellah ini adalah pertama , evolusi kosmik yang dimulai dari Big Bang yang menciptakan kompleksitas jagat raya dengan rentang 4,5 milyar tahun lalu . Kedua , evolusi biologis , dimana spesies –spesies dari yang paling simpel seperti bakteri hingga yang paling kompleks seperti manusia melanglang buana menguasai Bumi silih berganti. Ada yang beradaptasi dan bertahan , ada juga yang musnah merupakan sebuah keniscayaan hukum alam. Ketiga, adalah evolusi sosio kultural dimana manusia disini menjadi tolak ukur penggerak peradaban seperti menciptakan pemikiran –pemikiran, nilai-nilai moral , budaya , bahasa dan juga mode produksi. Ketiga bentuk evolusi ini tidak bisa dilihat terpisah namun berinteraksi secara integratif. Memasukkan sains evolusi inilah salah satu argumen multidisipliner yang dilakukan Robert N. Bellah dan akan banyak lagi argumen multidisipliner lain yang disajikan dalam buku ini.

Bentuk argumen yang kedua , Robert N. Bellah mengandalkan argumen psikologi evolusioner. Tindak -tanduk yang dilakukan manusia ketika menjalani sebuah agama tidak bisa dilepaskan dari apa yang kita kenal dengan ritual. Ritual disini dimaknai sebagai sebuah kegiatan untuk menyalurkan nilai-nilai komunal dan juga sebagai sarana relaksasi dari tekanan instingtif yang dikenal sebagai struggle of existence .Pada tahap berikutnya, rasa lega dan bebas stress ini ingin dialami kembali oleh makhluk-makhluk bernyawa, dan keinginan ini terpenuhi dalam kegiatan bermain (play). Bermain adalah suatu kegiatan rekreatif, yang bebas dari Darwinian pressure “the struggle for existence” (atau “survival of the fittest”). Bermain adalah suatu kegiatan yang berlangsung di “relaxed field” atau “relaxed selection”. Argumen bahwa ritual agama memiliki efek-efek ekstatik dan relaksasi ini banyak ditemukan dalam teori pemikir-pemikir sebelumnya seperti misalnya Karl Marx yang punya semboyan terkenal bahwa ‘Agama adalah candu bagi manusia’. Bellah menamakan kegiatan ini sebagai apa yang kita kenal dengan ‘play’ (bermain). Dalam ritus ‘play’ , terciptalah sebuah bonding , empati dan proteksi. Play adalah awal dari ritus religius dan Bellah tidak memisahkan hal ini. Sebuah argumen yang berani, menantang dan bisa bikin ormas agama blingsatan, tetapi kalau ditilik secara lebih jauh lagi, pendekatan ini justru menguatkan hakikat dari ritus. Ritus religius berevolusi secara psikologis dari hal yang sederhana sebagai sarana relaksasi menjadi sebuah sarana bernilai tinggi yaitu mengikatkan manusia dengan sesamanya dan juga dengan hakikat Transenden. Ritus religius berevolusi melalui nilai yaitu sebuah nilai yang bersifat religius dihadirkan . Patut digarisbawahi, pemahaman ritus religius inilah berlaku pada spesies homo sapiens (manusia).

Argumen multidisipliner lain yang dikemukan oleh Robert N.Bellah adalah Bellah membagi evolusi sosial-kultural dalam 4 tahap: kebudayaan episodik (atau unitif), kebudayaan mimetik (atau enaktif), kebudayaan mitik (atau simbolik), kebudayaan teoretik (atau konseptual). Dalam kebudayaan episodik, manusia belum mampu berpikir reflektif atau dapat dikatakan berpikir instingtif untuk bertahan hidup sebagai sebuah spesies . Pada tahap mimetik, manusia berinteraksi lewat mimik dan bahasa isyarat lain (tak harus non-verbal), mengembangkan kemampuan dan skill lewat peniruan. Dalam zaman mitik lahirlah mitos dan metafora yang memiliki fungsi untuk mengupas misteri jagat raya, manusia hidup bersanding dengan dunia natural yang biasa kita kenal sebagai dunia yang membidani lahirnya kepercayaan animisme , dinamisme , shamanisme ,atau paganisme. Kebudayaan teoretik baru lahir pada zaman Axial. Teolog terkenal yang fokus pada zaman Axial seperti Karen Armstrong misalnya memiliki argumen bahwa disini manusia memiliki kemampuan berpikir reflektif. Jika Karen Armstrong dalam bukunya A History Of God menjelaskan panjang lebar mengenai munculnya agama-agama Samawi dan pertanyaan mengenai dunia adikodrati yang melahirkan dasar teologi dari Yahudi, Kristiani , Islam. Bellah mengambil sampel dalam Zaman Axial dari 4 peradaban besar seperti Israel Kuno dengan segudang nabi-nabinya , Yunani dengan barisan filsufnya , Cina dengan filsuf , dan pendeta-pendeta India yang menanyakan yang hakiki. Karena Zaman Axial lekat dengan budaya berpikir reflektif , maka tidak dapat dipungkiri antara pemikiran seringkali beradu satu sama lain. Integral dalam hal pertanyaan, partikular dalam hal jawaban.

Ketiga catatan di atas yang membuat pemikiran Bellah ini menarik untuk dipelajari. Bellah disini menyediakan sebuah alternatif dalam melihat agama. Niat Bellah dalam menulis buku ini adalah menciptakan ruang dialog antara agama dan sains yang seringkali bertentangan padahal dapat dimaknai secara menyeluruh. Bellah disini memberlakukan argumennya sebagai seorang sosiolog agama. Bagi Bellah, dunia adikodrati tidak berpengaruh sama sekali atau turut andil atas lahirnya agama-agama dunia. Kesan pertama kali ketika menyelesaikan buku Bellah adalah buku ini kaya akan definisi, asyik dibaca karena tuturan bahasanya yang tidak terlalu ilmiah terutama ketika memasuki bab-bab pertengahan. Buku ini menuntun kita untuk berani menjelajah sejarah peradaban manusia sebagai sebuah spesies yang cerdas. Rasanya wajar kalau menyejajarkan teori Bellah sebagai sebuah teori untuk membuka cakrawala pandangan kita tentang agama.

Referensi: Untuk memahami tentang agama sipil, bisa dicari dalam karya Robert N.Bellah yang berjudul Civil Religion

Oleh: Dipa Raditya (@diparaditya)

Undangan dari AIESEC UGM

Yogyakarta, 22 Mei 2013

No. : LCUGM/1213/COMM/Pro/III/0003

Lampiran : 1 (satu)

Hal : Undangan

Yth. IR Book Club

Di Tempat

Dengan hormat

Melalui surat ini kami panitia Youth Talk III yang merupakan rangkaian acara dari AIESEC LC UGM mengundang komunitas Sdr/i untuk dapat menghadiri acara yang akan kami laksanakan pada,

hari : Jumat, 31 Mei 2013

jam : 18.00 WIB - selesai

tempat : Auditorium Lembaga Indonesia Perancis

Kami selaku panitia memohon kesediaan komunitas Sdr/i untuk dapat menghadiri acara yang akan kami laksanakan. Demikian surat pengantar ini kami sampaikan. Besar harapan kami, agar komunitas Sdr/i ikut memeriahkan acara yang telah kami buat. Atas perhatian dan kerjasama Sdr/i, kami ucapkan terimakasih.

Aurelia Virgita

Organizing Comitte President

Local Comitte AIESEC UGM

Lipstick Traces: A Secret History Of The 20th Century

Judul Buku: Lipstick Traces: A Secret History Of The 20th Century

Penulis: Greil Marcus

Sebuah abad tidak dapat terlepas dari peristiwa-peristiwa yang membentuknya. Di setiap abad ada sebuah ciri khas tersendiri. Lipstick Traces bercerita mengenai abad ke 20 dari sisi yang tidak “biasa”. Abad ke 20 dalam buku ini adalah sebuah abad yang penuh dengan gelora resistensi anak-anak muda meskipun tidak dapat dipungkiri buku ini juga membahas kontradiksi tersendiri yang dialami oleh anak-anak muda abad itu yaitu sebuah kecenderungan untuk menjadi cuek atau bahkan nihilistik.

Dalam buku Lipstick Traces merangkai argumennya dari peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak biasa dan bagaimana peristiwa tersebut berelasi dengan konteks zaman ini . Lahirnya etika seni seperti Dada, Situasionist, atau bahkan kelahiran genre musik seperti rock & roll maupun punk bukanlah sebuah sejarah kelahiran yang instan atau dapat dikatakan netral dari tendensi politik apapun. Di buku Lipstick Traces ini, karya seni diperlakukan tidak seperti artefak sejarah yang hanya mengisi etalase museum atau teronggok mati di gudang belakang rumah anda. Karya seni adalah sebuah bentuk aktualisasi diri, sebuah hasil produk budaya yang tidak hanya saja dapat dinikmati namun juga direnungkan maknanya. Dalam karya seni, tidak hanya berisi estetika atau keindahan, akan tetapi juga sebuah statement. Kita bisa merujuk kepada sebuah etika seni Dadaisme, sebuah etika yang memiliki absurditas dan juga tendensi ke arah nihilistik. Alasan mengapa Dadaisme bisa populer dan dinikmati oleh para kawula muda ketika itu karena Dadaisme dianggap cocok dengan realita yang dibentuk abad ke 20, sebuah zaman dimana nihilisme, kepasifan dan absurditas adalah sebuah cara lari dari kenyataan. Itu satu sisi yang diungkap oleh Greill Marcus mengenai Dadaisme dan mengapa itu berkolerasi dengan muda-mudi di abad ke 20. Setelah bercerita panjang lebar mengenai Dadaisme, Greill Marcus membawa para pembacanya ke etika seni yang kedua yaitu Situationist, sebuah etika seni yang merupakan kombinasi dari teori Marxisme, semangat perlawanan terhadap kesenjangan sosial dan instrumen artistik Avant –garde ala Eropa. Semangat dari aliran ini adalah menyediakan sebuah konsep alternatif untuk membahasakan politik dan mempropagandakan resistensi melalui seni. Tujuan mereka jelas yaitu menyediakan pendidikan politik bagi masyarakat urban untuk tidak menjadi masyarakat yang tidak ambil peduli akan permasalahan sosio politik di sekitar mereka. Aliran seni yang terakhir yang dibahas dalam buku ini adalah aliran seni musik rock & roll dan punk. Kedua aliran musik ini lahir pada sebuah masa yang dimana alienasi, kebosanan dan kemapanan sebuah sistem menjadi sebuah wacana yang dominan. Rock & roll dan punk tidak hanya sekedar alunan musik namun juga merambah ke gaya hidup anak muda di awal abad ke 20 seperti seks, minuman keras, lirik lagu yang maskulin dan gaya berpakaian serta model rambut. Punk dan Rock & Roll adalah sebuah tonggak sejarah baru di abad ke 20 karena tidak hanya produk budaya berupa lagu-lagu hits belaka namun juga sebuah cara mewacanakan resistensi terhadap kemapanan, perang, isu gender, rasisme dan kapitalisme.

Dalam buku ini, Greill Marcus mengajak para pembaca untuk membaca sebuah pola kecenderungan sejarah khususnya sejarah seni. Buku ini menawarkan pembacaan baru untuk melihat bagaimana seni dapat menjadi ruang berpolitik, ruang dimana diskursus budaya saling berkontradiksi dan berdialektika. Di era sekarang, produk budaya tanding seperti budaya punk, rock & roll, hip-hop, visual kei atau graffiti merajalela dan dapat diakses dengan mudah. Seniman-seniman dengan ide-ide budaya tanding tadi apabila dipertemukan strategi pemasaran yang tepat akan meraup keuntungan secara maksimal disertai dengan meroketnya popularitas. Hal inilah yang tidak banyak dibahas atau diantisipasi dalam buku ini. Greill Marcus tidak mencoba untuk melihat kecenderungan sebuah produk budaya tanding untuk dikomodifikasi yang nantinya akan membuat produk budaya tersebut tidak ada ubahnya seperti barang industri belaka.

Membaca Lipstick Traces akan mempermudah anda untuk mengerti genealogi dari budaya tanding itu sendiri dimulai dari isu apa yang dibahas, instrumen seni macam apa yang digunakan, dan bagaimana situasi sosial politik mempengaruhi sebuah konteks dari karya itu sendiri. Untuk para akademisi studi budaya, buku ini bisa menjadi acuan untuk genealogi dan juga kritik terhadap budaya kontemporer di masa sekarang. Sesamar apapun, seni adalah bentuk peninggalan jejak peradaban manusia dan akan selalu menarik untuk dikaji. Ya, seperti jejak samarnya jejak lipstik.

Oleh: Dipa Raditya (@diparaditya)

Tanpa Jilbab Kamu Tetap Seorang Muslimah

"Mengapa para pemuda ini merasa terjebak dengan adat-istiadat yang bukan milik mereka?" Aku berbicara kepada Mama.

"Adat kehormatan sudah ada sebelum Islam. Jika kita bertahan pada budaya dengan mengatasnamakan Islam, maka kita sama saja menyembah apa yang manusia, bukan Tuhan, ciptakan? Bukankah itu disebut menyembah berhala?"

Mama menghela napas, “Itulah kebodohan.”

Percakapan di atas saya kutip dari buku “Allah, Liberty, & Love” karya Irshad Manji dalam salah satu babnya, yakni Pelajaran Ketiga: Budaya itu tidak sakral. Irshad Manji, salah seorang penulis reformis muslim kontemporer secara gamblang menunjukkan bagaimana mendamaikan iman dan kebebasan dalam dunia yang dipenuhi dogma-dogma represif atas nama identitas, budaya, maupun kehormatan keluarga. Irshad Manji mencoba untuk memberikan kita pilihan dan kapasitas untuk mewujudkannya.

Seorang wanita yang memutuskan untuk tidak mengenakan jilbab ataupun hijab tidak menandakan dirinya sebagai seorang non-Islam. Masalah agama memang sejak dulu menjadi isu yang sangat sensitif di dunia, terlebih lagi di Indonesia. Namun itu tidak menjadikannya sebagai sebuah isu yang tidak dapat dibicarakan. Saya mulai tertarik untuk melihat permasalahan jilbab semenjak saya masuk ke dalam dunia HI (Hubungan Internasional). Ini bukan berarti saya menolak penggunaan jilbab, tapi lebih kepada bagaimana muslim mencermati keadaan sekitarnya.

Pelarangan penggunaan jilbab di Perancis menjadi isu yang lumayang sering dibicarakan dalam lingkar studi HI, terutama bagi mereka yang memberi perhatian lebih terhadap isu agama. Peraturan yang disahkan semenjak tahun 2011 itu menuai banyak kontroversi di kalangan masyarakat. Ada yang menentangnya atas nama agama dan kebebasan, namun juga ada yang mendukungnya sebagi bentuk war on terrorism. Memang sejak peristiwa 9/11 di Amerika muslim mendapatkan citra yang buruk sebagai teroris dan dunia memandang Islam sebagai ‘sebuah’ aktor antagonis dalam studi keamanan dunia. Istilah islamophobia kemudian nyaring terdengar di dunia Barat.

Tren di Indonesia

Kaum muslim di seluruh dunia mengalami dilema yang sama, yakni antara kukuh mempertahankan ajaran yang mereka pahami (terkadang seadanya) atau memperbaiki citranya sebagai penganut agama pembawa perdamaian di dunia. Dari sini kemudian saya memulai dari memperhatikan permasalahan jilbab sebagi faktor budaya di Indonesia.

Penggunaan jilbab sepertinya menjadi sebuah tren di kalangan pelajar Indonesia, khususnya ketika mereka telah mengenyam pendidikan tinggi di universitas. Tanpa melihat alasan di balik penggunaannya, saya lebih suka untuk melihat wanita apa adanya. Saya percaya bahwa tubuh dan segala perlengkapan yang menutupinya tidak dapat dijadikan faktor utama dalam menilai seseorang apakah dia baik atau tidak. Sayangnya, ada tren kontradiktif yang terjadi di Indonesia, yakni penggunaan kekerasan atas nama agama dan penggunaan agama sebagai alat politik (atau sebaliknya, agama dipolitisasi). Kebanyakan orang menilai orang lain dari pakaiannya maupun latar belakangnya (biasanya keluarga dan agama) tanpa mengindahkan perilaku sehari-hari individu tersebut. Ketika dunia mengalami krisis kepercayaan dan demonisasi terhadap Islam akibat 9/11, muslim Indonesia malah sibuk mencap yang lain kafir dan sesat.

Islam mengajarkan umatnya untuk menutup alat vital dan berpakaian sopan. Ini dapat dimaknai dengan sangat luas. Saya tidak menyalahkan maupun menganjurkan untuk tidak mengenakan jilbab sebagai salah satu interpretasi ajaran Islam, tetapi bagaimana mengakalinya untuk dapat ‘lolos’ menghadapi rintangan seperti di Perancis. Jilbab, hijab, dan cadar memang menjadi pilihan yang paling efektif (karena menutup seluruh bagian tubuh) ketimbang menggunakan baju lengan panjang ataupun topi untuk menutupi rambut. Namun hal tersebut dapat memberikan dampak negatif psikologis terhadap orang lain yang curiga dan berprasangka buruk bahwa pengguna jilbab, hijab, ataupun cadar sebagai bentuk penutupan diri ataupun menyembunyikan sesuatu.

Menghindari pria untuk terangsang juga sering menjadi alasan penggunaan jilbab, hijab maupun cadar. Tetapi bagi saya hal ini menjadi kurang masuk akal di tengah pergolakan arus globalisasi. Beberapa teman pernah berargumen bahwa di zaman globalisasi dimana rok mini, hot pants, dan kaos tak berlengan telah menjadi hal yang biasa digunakan wanita dan merupakan konsumsi sehari-hari, yang menurut kaum feminis, tidak bisa dijadikan alasan memprovokasi pria untuk memperkosa wanita. Adalah tuntutan yang berlebihan memang bagi kaum lelaki untuk menerima argumen tersebut, tapi saya percaya bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghindari hal tersebut ketimbang memaksa wanita menggunakan jilbab, hijab, maupun cadar.

Islam tidak pernah memaksa

Saya masih ingat perkataan kakak saya bahwa Islam itu tidak pernah memaksa. Islam adalah agama yang bebas, membutuhkan pendalaman, penafsiran, dan interpretasi yang luas. Kebebasan individu menjadi patokan utama saya hingga saat ini. Mau menggunakan jilbab ataupun tidak pada akhirnya Islam itu adalah pilihan masing-masing individu.

Oleh: Iqbal Zakky Hasbianto (@merdeka_1)